Rabu, 30 Oktober 2019

Cara budidaya Bebek Petelur




Budidaya bebek petelur sangat potensial dijadikan usaha baik sebagai sambilan atau sumber penghasilan pokok. Bebek dikenal mudah dalam pemeliharaan dan tahan terhadap penyakit. Bisa dipelihara dengan cara tradisional, digembalakan, atau secara intensif, didalam kandang, atau bisa juga digabungkan antara keduanya.

Hal-hal yang perlu diperhatikan untuk budidaya bebek petelur adalah sebagai berikut :
Perkandangan
Kandang yang cocok untuk budidaya bebek petelur adalah jenis Ren. Jenis ini terdiri dari 2 bagian :

  • tempat berteduh, beristirahat dan bertelur dimalam hari
  • tempat bermain disiang hari atau playangan.

Tempat berteduh, beristirahat dan bertelur berupa ruangan beratap, berlantai tanah dan beralas / litter. Atap dapat berupa asbes, genting atau rumbia. Alas/litter bisa berupa sekam, jerami atau serbuk kayu gergajian. Alas berguna untuk menyerap cairan kotoran bebek sehingga kandang tidak mudah becek, memberi suasana hangat untuk merangsang itik bertelur, menjaga telur agar tidak mudah pecah. Sebelum ditaburi alas/litter, tanah diberi kapur lebih dahulu untuk mencegah penyakit dan mengurangi bau kotoran. Berikan ventilasi yang cukup agar sirkulasi udara dalam kandang lancar. Gas-gas yang timbul dari tumpukan kotoran bisa mengganggu kesehatan bebek yang berdampak pada produktifitas telur. Sirkulasi udara yang lancar mencegah gangguan kesehatan pada bebek yang ditimbulkan oleh gas-gas yang dihasilkan dari timbunan kotoran. Untuk tempat beristirahat sebaiknya diisi 4-5 ekor bebek untuk 1 m2 luas kandang.
Tempat bermain (playangan) berfungsi memberi ruang gerak bagi bebek untuk bergerak aktif sehingga meningkatkan kesehtan bebek. Disini bisa diberi peneduh berupa pohon waru atau talok, tetapi tetap harus menyediakan ruang untuk masuknya sinar matahari. Lantai tanah tempat bermain dibuat sedikit miring agar saat hujan air tidak menggenang. Sediakan tempat minum yang cukup, atau lebih bagus diberi kolam. 1 m2 luas kandang untuk 2 ekor bebek.
Bibit
Untuk budidaya bebek petelur sebaiknya membeli bibit berupa bebek siap telur/bayah agar perputaran modal lebih cepat. Memeliha DOD hingga menjadi bebek siap telur bisa dijadikan peluang usaha tersendiri. Untuk memilih bebek siap telur yang baik diperlukan pengalaman dan kejelian. Bagi peternak pemula sebaiknya membawa teman yang berpengalaman saat membeli bebek agar terhindar dari ulah pedagang nakal. Berikut beberapa ciri fisik bebek siap telur :


  • ukuran tubuh seragam,
  • bentuk tubuh langsing dan berdiri tegak,
  • bulu tubuh lengkap berwarna kemerahan berbeda dengan bebek afkir yang cenderung berbulu pucat keputih-putihan,


Pakan
Bebek petelur rata-rata membutuhkan pakan 0.2 kg/ekor/hari atau 10% dari berat tubuh. Jenis pakan yang diberikan tergantung lokasi peternakan, pilih bahan yang mudah didapat sehingga ketersediaan pakan terjamin. Contoh ransum untuk bebek petelur : bekatul, nasi bekas dan konsentrat dengan perbandingan 2:2:1. Ketiga bahan tersebut dicampur merata dengan air secukupnya. Lebih bagus lagi kalau air yang digunakan adalah air panas, sehingga pakan lebih mudah ditelan dan dicerna. Pakan diberikan 2 sampai 3 kali sehari. Jadi untuk 100 ekor bebek diperlukan 20 kg pakan yang terdiri dari 8 kg bekatul, 8 kg nasi bekas dan 4 kg konsentrat.
Hasil budidaya
Hasil utama dari budidaya bebek petelur adalah telur bebek. Satu ekor bebek rata-rata menghasilkan 200-230 butir telur per tahun. Telur bebek dijual per biji bukan kiloan seperti telur unggas yang lain.
Hasil sampingan berupa bebek afkir yang dijual sebagai bebek potong. Bebek memasuki masa afkir ditandai dengan turunnya produktifitas telur dan meningkatnya berat badan/gemuk.

Sumber :
https://paktanimacul2.blogspot.com/2013/01/budaya-bebek-petelur.html

Cara membedakan anak itik (DOD) jantan dan betina



Memilah anak itik jantan dan betina (sexing) wajib kuasai oleh orang-orang yang terjun didunia budidaya itik terutama pembibitan. Karena anak itik jantan dan betina djual dengan harga yang jauh berbeda.

Berikut adalah cara memilah kelamin anak itik :


1.Hand sexing

Adalah cara memilah kelamin anak itik dengan cara
membuka anus/kloaka. Jika terdapat benjolan kecil dianus maka anak itik ini berkelamin jantan, jika tidak ada maka berkelamin betina. Sexing dengan cara ini memiliki tingkat akurasi/ketepatan yang tinggi, tapi sedikit repot dan makan waktu lumayan lama. Bayangkan jika yang dipilah berjumlah ratusan atau bahkan ribuan.

2.Bend sexing

Adalah memilah kelamin anak itik dengan memperhtikan tingkah anak itik. Termasuk dalam cara ini adalah membedakan warna bulu dan paruh anak itik. Bulu anak itik jantan lebih gelap dan kasar daripada anak itik betina. Warna paruh anak itik jantan abu-abu kehitaman, sedang anak itik betina lebih terang mirip warna bawang merah (bhs jawa : mbrambang). Dengan cara ini akan lebih mudah dan cepat dibanding cara nomer 1 /hand sexing. Namun jika ada keraguan maka cara nomer 1 dilakukan.

3.Voice sexing

Adalah pemilahan kelamin anak itik dengan membedakan suara yang dikeluarkan anak itik. Anak itik jantan bersuara serak, sedangkan anak itik betina nyaring. Cara ini membutuhkan latihan dan konsentrasi.

Demikianlah cara memilah kelamin anak itik yang baru menetas. Saya lebih suka menggunakan cara nomer 2/dengan membedakan warna paruh dan bulu karena lebih mudah dan cepat. Namun ada sedikit kejadian warna paruh sulit dibedakan, kalau terjadi demikian saya gunakan cara nomer 1/hand sexing untuk lebih meyakinkan.

Semoga bermanfaat.

note : DOD: day old duck/anak itik umur sehari

Sumber : https://paktanimacul2.blogspot.com/2012/08/cara-mudah-membedakan-anak-itik-dod.html

Cara budidaya Bayam serta manfaatnya



Bayam merupakan tumbuhan yang biasa ditanam untuk dikonsumsi daunnya sebagai sayuran hijau. Tumbuhan ini berasal dari Amerika tropik namun sekarang tersebar ke seluruh dunia. Tumbuhan ini dikenal sebagai sayuran sumber zat besi yang penting bagi tubuh. Wikipedia

1. Manfaat Tanaman
-          Meningkatkan kinerja ginjal & melancarkan pencernaan.
-         Membersihkan darah sehabis bersalin, memperkuat akar rambut serta mengobati tekanan darah rendah, kurang darah (anemia) dan gagal ginjal.
-    Mencegah hilangnya pengelihatan akibat usia yang menua (macular degeneration), penyakit kanker, katarak dan bayi lahir cacat.
-          Sumber lutein dan folate yang hebat, yang membantu mencegah penyakit jantung & bayi yang lahir cacat.
-       Kandungan folic acid yang ada di bayam juga mampu melindungi otot jantung dari meningkatnya kadar glukosa yang mudah larut dan mengandung B9. Vitamin ini biasanya menjadi suplemen bagi perempuan yang mengandung untuk melindungi bayi dari cacat pada bagian syaraf.
-      Mengurangi pembentukan batu empedu sebab bayam kaya magnesium di samping ikan, kacang almon kering, alpukat, pisang, kismis.
-       Sayur bayam juga memberikan zat besi pencegah anemia namun zat besi di dalam bayam tidak mudah diserap.

2. Kultivar
Kultivar  bayam mempunyai nilai komersial yang tinggi diantaranya  Cummy, Green Lake, Tark, Strayful. Selain itu dikenal juga varietas lokal seperti  Giti merah, Giti hijau, Cimangkok, Kuningan, dan Sukamandi.
3. Syarat tumbuh
-       Tumbuh baik di daerah  dataran tinggi, tetapi dapat hidup di dataran rendah.
-       Menghendaki tanah yang subur dan gembur.
-       Derajat kemasaman (pH) 6-7.
4. Penanaman
-          Pengolahan tanah untuk bayam tahunan lebih dalam dari pada untuk bayam cabut.
-          Saat pengolahan tanah terakhir perlu  dilakukan pemupukan dasar.
-     Buat bedengan dengan ukuran 1 m x 5 m.  Diantara bedengan dibuat parit untuk memudahkan penyiraman.
-          Sebelum benih ditabur perlu dicampur dengan abu dengan perbandingan 1 bagian benih + 10 bagian abu untuk penaburan benih merata & tidak bertumpuk-tumpuk.
-          Buat larikan untuk penaburan benih,  dengan jarak antar baris sekitar 20 cm.
-          Kebutuhan benih untuk 1 hektar  pertanaman sekitar 5-10 Kg.
-          Benih yang sudah ditabur ditutup tipis dengan tanah secara merata
-          Setelah penanaman disiram dengan emrat  setiap pagi dan sore kecuali turun hujan.
5. Pemeliharaan
-     Kegiatan pemeliharaan meliputi  penyiangan, pengemburan, pemberian pupuk susulan dan pengendalian hama/penyakit.
-     Penyiangan dan penggemburan dilakukan 2 minggu setelah tanam selanjutnya dua minggu sekali
-     Pemupukan bergantung pada kesuburan tanah, sebagai acuan dapat menggunakan patokan n sebagai berikut:
Umur
Kg/ha/Musim
pH
Urea
ZA
SP-36
KCl
Sebelum tanam
56

250
90
6,5
3 MST
56


90


MST = Minggu setelah tanam

6. Pengendalian Penyakit
Penyakit Downy mildew
-       Gejala;  daun bagian atas menguning, daun bagian bawah berwarna hijau keunguan dan akhirnya berwarna cokelat.
-       Serangan umumnya  timbul bila ditanam pada musim hujan dan dingin.
-       Pencegahan dapat dilakukan dengan memetik daun yang diserang.
-       Pengendalian  dengan menggunakan fungisida sesuai petunjuk pada label
Penyakit Spinach blight (oleh Virus Mozaik cucumber )
-         Gejala:  daun menyempit, mengecil, menggulung dan berkerut. Permukaan daun berwarna kuning biasanya menyerang daun muda.
-       Pencegahan dilakukan dengan penyiangan gulma dan penyemprotan lalat pembawa virus menggunakan  insektisida.
-            Tanaman yang terinveksi harus segera dimusnahkan
Penyakit noda daun (leaf spot)
-     Gejala :  noda cokelat pada setengah bagian daun, noda kemudian meluas sehingga menghancurkan daun.
-     Agar tidak meluas tanaman terserang harus segera dimusnahkan.
-     Pencegahan dengan pemberian kapur pada saat pengolahan tanah terutama pada tanah yang kekurangan Mn  dan menyemprot  tanaman  yang belum diserang dengan fungisida.
-   Gangguan dapat disebabkan oleh kekurangan unsur Mn, sehingga  penanggulangan dapat dilakukan dengan pemberian pupuk yang mengandung Mn
7. Pemanenan.
-          Bayam cabutan : penjarangan dilakukan 20 HST kemudian hari ke-25, 30 dan seterusnya hingga semua selesai panen.
-      Bayam tahunan : penjarangan pada hari ke-20 sehingga menghasilkan jarak tanam 50 x 40 cm panen dilakukan sekitar 3 MST caranya pucuk-pucuk daun atau pada ujung-ujung cabang telah dipetik. Selanjutnya pemanenan dilakukan sewaktu-waktu bila di perhatikan.

Sumber :
http://tatangkostaman.blogspot.com/2011/12/budidaya-bayam.html
https://id.wikipedia.org/wiki/Bayam

Cara budidaya Pakcoy



Pakcoy atau bok choy merupakan jenis sayuran yang populer. Sayuran yang dikenal pula sebagai sawi sendok ini mudah dibudidayakan dan dapat dimakan segar atau diolah menjadi asinan. Wikipedia

PAKCOY  (Brassica rapa cv. Pakchoy)
1. Manfaat
  • Menjaga kesehatan tulang, 
  • Menurunkan risiko kanker dan membantu mengatasi kanker, 
  • Meningkatkan kekebalan tubuh, 
  • Mengatasi lendir (dahak, ingus, dll.) Berlebihan, 
  • Menggiatkan fungsi organ pencernaan
  • Meningkatkan pembuangan racun dari dalam tubuh
2. Kultivar
Brisk green, Gracious, White-lLight 
3. Pembibitan
  • Buat bedengan untuk pesemaian
  • Taburkan benih pada permukaan bedengan lalu ditutup dengan tanah setebal 1-2 cm 
  • Lakukan perawatan dengan penyiraman menggunakan sprayer atau embrat 
  • Benih yang baik akan tumbuh setelah 3-4 hari 
  • Pindahkan bibit ke pertanaman setelah berdaun 3-5 helai (3-4 MST) 
4. Pengolahan Lahan
  • Olah tanah hingga gembur lalu dibuat bedengan, 2-4 minggu sebelum lahan ditanami 
  • Upayakan lahan harus bersih dari gulma dan tidak ternaungi 
  • Taburkan pupuk kandang sebagai pupuk dasar saat pengolahan tanah
  • Buat bedengan lebar 120 cm, panjang sesuai ukuran petak tanah, tinggi bedengan 20-30 cm, dan jarak antar bedengan 30 cm 
  • Lakukan pemupukan sesuai kesuburan tanah sebagai acuan dapat menggunakan dosis sebagai berikut: 

MST = Minggu Setelah Tanam 
5. Penanaman
  • Pilih bibit yang baik yaitu, batangnya tumbuh tegak, daun hijau segar dan tidak terserang hama atau penyakit 
  • Buat lubang tanam dengan ukuran 4-8 x 6-10 cm, 
  • Pindahkan bibit ke lubang tanam dengan hati-hati dan rapikan.
6. Pemeliharaan
  • Siram tanaman secara teratur, terutama pada musim kemarau penjarangan biasanya dilakukan pada saat 2 MST 
  • Lakukan penyulaman jika diperlukan
  • Lakukan penyiangan 2-4 kali selama pertanaman 
Hama dan Penyakit 
  • Hama yang biasa menyerang tanaman antara lain: ulat, siput, cacing, ulat Srocidolomia binotalis dan ulat Thepa javanica
  • Penyakit yang biasa menyerang ialah bakteri, virus, jamur dan gangguan fisiologi yang bisa saja terjadi 
  • Hama dan penyakit tanaman dikendalikan dengan menggunakan pestisida sesuai anjuran
7. Panen dan Pasca Panen
Pakcoy sudah bisa dipanen pada umur 30 -35 HST, tergantung pada ketinggian tempat penanaman. Semakin tinggi tempat penanaman, umur panen akan bertambah. Potong pakcoy di pangkal batangnya dengan menggunakan pisau tajam, lalu kumpulkan hasil panen di tempat pencucian. Setelah terkumpul, hasil panen dicuci dan dibersihkan dari bekas-bekas tanah sambil mengupas daun dan tangkai yang tua, kuning, berwarna, dan rusak. Tiriskan di rak-rak yang ditempatkan di ruangan yang teduh. Bila akan dijual ke supermarket perlu dikemas dengan cara mengikatnya dengan menggunakan label isolasi. Berat setiap kemasan sekitar 250-300 gr. Susun hasil kemasan secara rapi di dalam boks plastik untuk selanjutnya dikirim ke supermarket. Bila akan dijual di pasar tradisional, sayuran tidak perlu dikemas melainkan cukup dicurah saja asalkan kondisinya masih segar dan tidak rusak

Sumber :
http://tatangkostaman.blogspot.com/2011/12/budidaya-pakcoy.html
https://id.wikipedia.org/wiki/Pakcoy

cara budidaya Pare serta manfaatnya



Peria atau pare adalah tumbuhan merambat yang berasal dari wilayah Asia Tropis, terutama daerah India bagian barat, yaitu Assam dan Burma. Aanggota suku labu-labuan atau Cucurbitaceae ini biasa dibudidayakan untuk dimanfaatkan sebagai sayuran maupun bahan pengobatan. Wikipedia

PARE (Momordica charantia L)
1. Manfaat
  • Mengurangi produksi lendir, 
  • Mengendalikan kadar gula darah, 
  • Memacu pembuangan racun dari dalam tubuh, 
  • Meningkatkan stamina dan nafsu makan. 
  • Hindari menggunakan pare dalam jus secara berlebihan atau terus-menerus, agar tidak mengganggu fungsi buah pelir memproduksi sperma
2. Kultivar
Stamina F1, Sehat F1, Purnama F1, Siam F1. 
3. Persiapan Lahan
  • Tanah dicangkul dan dibuat bedengan berukuran 1,5 -2,5 m x 30 m.Tinggi bedengan 30 cm. Jarak antar bedeng 40 – 60 cm untuk menghindari tanaman saling membelit. 
  • Taburkan pupuk kandang diatas bedengan sebanyak 10 – 15 ton, 
  • Bila tanah terlalu masam dapat dilakukan pengapuran menggunakan dolomit ( kapur) sekitar 1 – 2 ton sampai pH netral 6 – 6,5. Kapur diaduk dengan tanah sampai rata. 
  • Rapihkan bedengan dan ratakan permukaan tanah. 
4. Penanaman
  • Lakukan penugalan sesuai jarak tanam.jarak tanam yang dipakai dengan dua baris tanaman per bedeng. 
  • Jarak tanaman yaitu 0,75 x 0,75 m atau 1x1m 
  • Tiap lubang tanam di isi 2 benih per lubang. 
  • Tutup lubang dengan tanah kemudian di siram.
5. Pemeliharaan
Penyulaman 
Penyulaman dilakukan pada benih yang tidak sehat pertumbuhannya dengan benih baru. Penyulaman biasa dilakukan pada 1 MST
Pengajiran
  • Lakukan pengajiran pada 2 atau 3 MST. 
  • Ajir dapat dibuat dari bambu berukuran 2 x 200 cm, ditancapkan disisi pinggir tanaman dengan jarak 5 – 10 cm, dengan kedalaman 20 –30 cm. 
  • Sambungkan keempat ujung dengan bambu lain, 
  • Tambahkan bambu lain dalam posisi melintang sehingga membentuk kotak kotak bujur sangkar. 
Penyiangan 
Penyiangan rutin dilakukan satu minggu sekali secara manual dengan mencabuti ruput dan gulma yang tumbuh atau dengan dikored.
Pemangkasan 
  • Lakukan pemangkasan sebanyak 2 kali yaitu pada umur 3 MST dan 6 MST. 
  • Cabang – cabang dipotong dan diarahkan agar tunas tumbuh menyebar.sehingga produksi buah bisa maksimal. 
  • Pada umur 6 MST lakukan pemangkasan pada cabang tua yang tidak tumbuh lagi. 
  • Buang daun-daun tua dan cabang yang rusak, patah atau terkena serangan penyakit.
Penyiraman 
Airi pertanaman dengan mengiri parit selama beberapa jam sesuai dengan kelembaban tanah dan curah hujan.
Pemupukan 
Perkiraan dosis dan waktu aplikasi pemupukan sebagai berikut : 
MST= Minggu Setelah Taam
Pembungkusan 
  • Bungkus pare muda untuk menjaga kualitas buah dan melindunginya dari serangan lalat buah dan serangga lain. 
  • Gunakan daun-daunan, kertas koran, plastic tipis untuk membungkus.
  • Pengendalian Hama dan Penyakit 
  • Pengendalian HPT dilakukan seperlunya saja bila terlihat gejala adanya serangga atau penyakit terlihat. 
  • Untuk tindakan preventif dilakukan penyemprotan insektisida sesuai dosis yang tertera pada label
  • Gunakan fungisida untuk pencegahan penyakit embun bulu 
6. Panen dan Pasca panen
  • Panen pertama biasanya dilakukan 2 bulan setelah tanam atau 8 MST panen berikut setiap 1-2 minggu sekali 
  • Buah dipanen dengan menggunakan pisau atau gunting jangan dengan tangan. 
  • Pare disortir dan disusun tanpa banyak tumpukan karena mudah lecet. 
Sumber :
http://tatangkostaman.blogspot.com/2011/12/budidaya-pare.html
https://id.wikipedia.org/wiki/Peria

Cara Budidaya ubi jalar cilembu



Tanaman ubi jalar (Ipomoea batatas. Poir) di Indonesia merupakan salah satu tanaman yang cukup penting, baik sebagai makanan pokok alternatif di musim paceklik maupun makanan tambahan dalam rangka diversifikasi makanan. Ubi jalar mengandung air 64,60-79,59%, abu 0,92-0,98%., pati 17,06-28,19%, Protein 1,19-2,07%, gula 0,38-0,43%, serat kasar 2,16-5,24% dan beta karoten 17,42-51,20%. Oleh karena itu ubi jalar memegang peranan penting dalam ketahanan pangan masyarakat.
Hampir seluruh bagian ubi jalar dapat dimanfaatkan yaitu a) Daun: sayuran, pakan ternak, b) Batang: bahan tanam, pakan ternak, c) Kulit ubi: pakan ternak, d) Ubi segar: bahan makanan, e) Tepung ubi jalar: makanan, f) Pati ubi jalar : fermentasi, pakan ternak, asam sitrat.
      Di Jepang, ubi jalar dimanfaatkan sebagai bahan pangan tradisional dan dipromosikan setara hamburger dan pizza. Di negara tersebut berbagai makanan berbahan baku ubi jalar banyak dijumpai di toko-toko dan restoran bertarap internasional. Ubi Jalar Cilembu ST 1, sejak lama menembus pasar Singapura, Malaysia, Korea, dan Jepang.
     Ubi Cilembu ST 1, merupakan salah satu komoditi palawija unggulan di Kabupaten Sumedang, varietas tersebut telah dirilis oleh menteri pertanian pada Tahun 2001. Nama cilembu diambil dari nama daerah asal ubi tersebut diproduksi yaitu Desa Cilembu Kecamatan Pamulihan, ST merupkan singkatan dari Sumedang Tandang, sedangkan angka 1 menunjukan bahwa di Kabupaten Sumedang memiliki varietas lokal ubi jalar lain yang memiliki keunggulan tidak jauh berbeda dengan Cilembu ST 1, namun belum di rilis oleh menteri pertanian.
     Ubi ini hanya memiliki rasa dan aroma yang khas apabila di tanam di daerah Cilembu dan sekitarnya. Tanaman ubi jalar yang tumbuhnya baik dan tidak mendapat serangan hama penyakit yang berarti (berat) di Kecamatan Pamulihan dapat menghasilkan umbi basah 15-20 ton sedangkan di Kecamatan Rancakalong dapat menghasilkan 20- 25 ton ubi basah per hektar.
     Keunggulan ubi jalar ini adalah apabila ubi yang telah disimpan lebih dari 10 hari , dimasak dengan cara dioven selama 30-90 menit (bergantung ukuran), bagian tengah umbi akan menghasilkan cairan sangat manis seperti madu. Lebih manisnya ubi jalar cilembu disebabkan kadar gula ubi cilembu lebih tinggi dari ubi jalar lain yaitu ubi mentah mencapai 11-13% dan ubi masak 19-23%, sehingga sangat digemari oleh konsumen
Kulit ubi cilembu berwarna putih kekuningan (gading) dengan bentuk umbi bulat memanjang , berbentuk panjang. Ubi ini memiliki keunikan lain yaitu tidak mengakibatkan gangguan perut meskipun dimakan sebelum sarapan.

BUDIDAYA TANAMAN
A. Pembibitan
Tanaman ubi jalar dapat diperbanyak secara generatif dengan biji dan secara vegetatif berupa stek batang atau stek pucuk. Perbanyakan tanaman secara generatif hanya dilakukan pada skala penelitian untuk menghasilkan varietas baru.
1. Persyaratan Bibit
Bahan tanaman (bibit) berupa stek pucuk atau stek batang harus memenuhi syarat sebagai berikut:
  • Bibit berasal dari varietas Cilembu ST
  • Bahan tanaman berumur 2 bulan atau lebih.
  • Bahan tanaman (stek) dapat berasal dari tanaman produksi dan dari tunas-tunas ubi yang secara khusus disemai atau melalui proses penunasan.
  • Perbanyakan tanaman dengan stek batang atau stek pucuk secara terus-menerus cenderung menurunkan hasil pada generasi-generasi berikutnya. Oleh karena itu, setelah 3-5 generasi perbanyakan harus diperbaharui dengan cara menanam atau menunaskan umbi untuk bahan perbanyakan.

2. Penyiapan Bibit
  • Pilih tanaman ubi jalar yang sudah berumur 2 bulan atau lebih, pertumbuhannya sehat dan normal tidak terlalu subur.
  • Stek dipotong sepanjang 25-30 cm atau 3-4 ruas, diambil dari ujung batang atau cabang dan maksimal 3 stek untuk setiap cabang atau batang bagian tanaman bibit, pemotongan menggunakan pisau yang tajam, dan dilakukan pada pagi
  • Setelah dipotong, bibit direndam dalam larutan fungisida dengan konsentrasi 2 g/L larutan selama 5 menit

Pengolahan Tanah
a) Penyiapan Lahan Tegalan
  • Bersihkan lahan dari rumput-rumput liar (gulma)
  • Olahan tanah dengan cangkul atau bajak hingga gembur sambil membenamkan rumput-rumput liar
  • Biarkan tanah kering selama minimal 1 minggu
  • Buat guludan-guludan dengan ukuran lebar bawah 60 cm, tinggi 30-40 cm, jarak antar guludan 70-100 cm, dan panjang guludan disesuaikan dengan keadaan lahan
  • Rapikan guludan sambil memperbaiki saluran air.

b) Penyiapan Lahan Sawah Bekas Tanaman Padi
  • Babat jerami sebatas permukaan tanah
  • Tumpuk jerami secara teratur menjadi tumpukan kecil memanjang berjarak 1 meter antar tumpukan
  • Olah tanah di luar bidang tumpukan jerami dengan cangkul atau bajak, kemudian tanahnya ditimbunkan pada tumpukan jerami sambil membentuk guludan. Ukuran guludan adalah lebar bawah 60 cm, tinggi 40 cm, lebar atas 40 cm ( untuk ukuran guludan dengan jarak antara gulud 100 cm ) sedangkan untuk jarak antar guludan 80 cm digunakan ukuran lebar bawah 50 cm, lebar atas 30 cm, tinggi guludan 30 cm
  • Rapikan guludan sambil memperbaiki saluran air antar guludan. Pembuatan guludan di atas tumpukan jerami atau sisa-sisa tanaman dapat menambah bahan organik tanah yang berpengaruh baik terhadap struktur dan kesuburan tanah sehingga ubi dapat berkembang dengan baik dan permukaan kulit ubi rata. Kelemahan penggunaan jerami adalah pertumbuhan tanaman ubi jalar pada bulan pertama sedikit menguning, namun segera sembuh dan tumbuh normal pada bulan berikutnya.

Bila jerami tidak digunakan sebagai tumpukan guludan, tata laksana penyiapan lahan sebagai berikut :
  • Babat jerami sebatas permukaan tanah
  • Singkirkan jerami ke tempat lain untuk dijadikan bahan kompos
  • Olah tanah dengan cangkul atau bajak hingga gembur
  • Biarkan tanah kering selama minimal satu minggu
  • Buat guludan-gululudan berukuran lebar bawah ±60 cm, tinggi 35 cm dan jarak antar guludan 80-100 cm.
  • Rapikan guludan sambil memperbaiki saluran air antar guludan.

Hal yang penting diperhatikan dalam pembuatan guludan adalah ukuran tinggi tidak melebihi 40 cm. Guludan yang terlalu tinggi cenderung menyebabkan terbentuknya ubi berukuran panjang dan dalam sehingga menyulitkan pada saat panen. Sebaliknya, guludan yang terlalu dangkal dapat menyebabkan terganggunya pertumbuhan atau perkembangan ubi, dan memudahkan serangan hama boleng Cylas sp.


Teknik Penanaman
  • Penanaman ubi jalar di lahan kering dilakukan pada awal musim hujan (Oktober), atau awal musim kemarau (Maret) bila keadaan cuaca normal. Dilahan sawah, waktu tanam yang paling tepat adalah segera setelah padi rendengan atau padi gadu, yakni pada awal musim kemarau
  • Penanaman stek dilakukan pagi hari, setelah direndam dalam larutan fungisida, stek sebaiknya searah ( menghadap ke timur ) agar pertumbuhan tanaman menjadi searah
  • Stek ditanam miring pada guludan, dengan 1/2-2/3 bagian masuk ke dalam tanah. Jarak tanam 30-40 cm
  • Pada tiap bedengan ditanam 2 deretan dengan jarak kira-kira 30-40 cm.

Pemeliharaan Tanaman
1. Penyulaman
Selama 3 (tiga) minggu setelah ditanam, penanaman ubi jalar harus diamati kontinu, terutama bibit yang mati atau tumbuh secara abnormal. Bibit yang mati harus segera disulam. Cara menyulam adalah dengan mencabut bibit yang mati, kemudian diganti dengan bibit yang baru. Penyulaman sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari, pada saat sinar matahari tidak terlalu terik dan suhu tidak terlalu panas. Bibit (setek) untuk penyulaman sebelumnya dipersiapkan atau ditanam ditempat yang teduh.
2. Penyiangan
Pada sistem tanam tanpa mulsa jerami, lahan biasanya mudah ditumbuhi rumput liar (gulma) yang merupakan pesaing dalam pemenuhan kebutuhan akan air, unsur hara, dan sinar matahari. Oleh karena itu, gulma harus segera disiangi. Bersamaan dengan penyiangan dilakukan pembumbunan, yaitu menggemburkan tanah guludan, kemudian ditimbunkan pada guludan tersebut.
Pengendalian gulma dilakukan secara manual menggunakan kored dan cangkul pada umur 2 minggu setelah tanam (MST), 5 MST, dan 8 MST atau dilakukan tergantung dari keadaan rumput
Tata cara penyiangan dan pembumbunan sebagai berikut:
  • Bersihkan rumput liar (gulma) dengan kored atau cangkul secara hati-hati agar tidak merusak akar.
  • Gemburkan tanah disekitar guludan dengan cara memotong lereng guludan, kemudian tanahnya diturunkan ke dalam saluran antar guludan.
  • Timbunkan kembali tanah ke guludan semula, kemudian lakukan pengairan hingga tanah cukup basah

3. Pemupukan
Pemupukan bertujuan menggantikan unsur hara yang terangkut saat panen, menambah kesuburan tanah, dan menyediakan unsur hara bagi tanaman. Sebaiknya lahan dipupuk dengan pupuk organik baik pepuk kandang maupun kompos dengan dosis 10.000 - 20.000 ton/ha. Dosis pupuk yang tepat harus berdasarkan hasil analisis tanah atau tanaman di daerah setempat. Sebagai acuan dosis pupuk/ha yang dianjurkan adalah :
- 100 kg N ( ± 200-250 kg Urea)
- 50 Kg P2O5 (± 100-150 kg TSP/SP-36)
- 200 kg K2O (± 300-350 kg KCL)
Pemberian pupuk dilakukan dalam larikan dengan jarak garitan 10 cm dari lubang setek sedalam 5 cm. Waktu pemupukan sebagai berikut:
- Saat tanam : Urea diberikan 1/3 takaran, SP-36, KCL diberikan seluruhnya pada saat tanam.
- Umur 6 minggu setelah tanam ; Urea 1/3 dari takaran
- Umur 12 minggu setelah tanam ; Urea 1/3 dari takaran
4. Pembalikan batang dan pucuk
      Pembalikan batang dan pucuk bertujuan untuk meningkatkan hasil umbi, pembalikan dan pengangkatan batang dilakukan tiap 3 minggu sekali, sebab pada tanaman yang pertumbuhannya subur dalam waktu satu bulan akan menjalar sepanjang 1-1,5 m. Bila batang terus dibiarkan menjalar di atas tanah dengan segera akan tumbuh akar di ketiak-ketiak daun. Akar akan membentuk umbi-umbi kecil yang mengurangi cadangan makanan bagi umbi di batang utama. Pembalikan batang dimaksudkan untuk mematikan akar yang tumbuh pada ketiak daun.

5. Pemangkasan
      Tanaman yang terlalu subur perlu dipangkasan sebab tanaman yang daunya terlalu rimbun akan mengurangi hasil umbi. Pemangkasan dilakukan dengan menggunakan pisau tajam. Mengenai berapa daun yang harus dibuang tidak bisa ditentukan kapasitasnya karena sangat tergantung pada keadaan tanaman. Pemangkasan dilakukan pada sulur-sulur yang merayap dalam saluran di sela-sela bedengan. Hasil pemangkasan dapat dimanfaatkan untuk pakan ternak.
6. Pengairan dan Penyiraman
Meskipun ubi jalar tahan kekeringan, fase awal pertumbuhan memerlukan air tanah yang memadai.
  • Seusai tanam, guludan diairi selama 15-30 menit hingga tanah cukup basah, kemudian airnya dibuang.
  • Pengairan berikutnya masih diperlukan secara kontinu hingga tanaman berumur 1-2 bulan.
  • Pada periode pembentukan dan perkembangan ubi, yaitu umur 2-3 minggu sebelum panen, pengairan dikurangi atau dihentikan.
  • Waktu pengairan yang paling baik pagi atau sore hari.
  • Di daerah yang sumber airnya memadai, pengairan dapat dilakukan kontinu seminggu sekali. Hal yang penting diperhatikan dalam pengairan adalah menghindari agar tanah tidak terlalu becek (air menggenang).

PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT
A. Hama
a) Penggerek Batang Ubi Jalar
      Stadium hama yang merusak tanaman ubi jalar adalah larva (ulat). Cirinya adalah membuat lubang kecil memanjang (korek) pada batang hingga ke bagian ubi. Di dalam lubang tersebut dapat ditemukan larva (ulat). Gejala: terjadi pembengkakan batang, beberapa bagian batang mudah patah, daun-daun menjadi layu, dan akhirnya cabang-cabang tanaman akan mati. Pengendalian: (1) rotasi tanaman untuk memutus daur atau siklus hama; (2) pengamatan tanaman pada stadium umur muda terhadap gejala serangan hama: bila serangan hama >5%, perlu dilakukan pengendalian secara kimiawi; (3) pemotongan dan pemusnahan bagian tanaman yang terserang berat; (4) penyemprotan insektisida yang mangkus dan sangkil, seperti Curacron 500 EC atau Matador 25 dengan konsentrasi yang dianjurkan.
b) Hama Boleng atau Lanas
      Serangga dewasa hama ini (Cylas formicarius Fabr.) berupa kumbang kecil yang bagian sayap dan moncongnya berwarna biru, namun toraknya berwarna merah. Kumbang betina dewasa hidup pada permukaan daun sambil meletakkan telur di tempat yang terlindung (ternaungi). Telur menetas menjadi larva (ulat), selanjutnya ulat akan membuat gerekan (lubang kecil) pada batang atau ubi yang terdapat di permukaan tanah terbuka. Gejala: terdapat lubang-lubang kecil bekas gerekan yang tertutup oleh kotoran berwarna hijau dan berbau menyengat. Hama ini biasanya menyerang tanaman ubi jalar yang sudah berubi. Bila hama terbawa oleh ubi ke gudang penyimpanan, sering merusak ubi hingga menurunkan kuantitas dan kualitas produksi secara nyata. Pengendalian: (1) pergiliran atau rotasi tanaman dengan jenis tanaman yang tidak sefamili dengan ubi jalar, misalnya padi-ubi jalar-padi; (2) pembumbunan atau penimbunan guludan untuk menutup ubi yang terbuka; (3) pengambilan dan pemusnahan ubi yang terserang hama cukup berat; (4) pengamatan/monitoring hama di pertanaman ubi jalar secara periodik: bila ditemukan tingkat serangan > 5 %, segera dilakukan tindakan pengendalian hama secara kimiawi; (5) penyemprotan insektisida yang mangkus dan sangkil, dengan konsentrasi yang dianjurkan; (6) penanaman jenis ubi jalar yang berkulit tebal dan bergetah banyak; (7) pemanenan tidak terlambat untuk mengurangi tingkat kerusakan yang lebih berat.
c) Tikus (Rattus rattus sp)
     Hama tikus biasanya menyerang tanaman ubi jalar yang berumur cukup tua atau sudah pada stadium membentuk ubi. Hama Ini menyerang ubi dengan cara mengerat dan memakan daging ubi hingga menjadi rusak secara tidak beraturan. Bekas gigitan tikus menyebabkan infeksi pada ubi dan kadang-kadang diikuti dengan gejala pembusukan ubi. Pengendalian: (1) sistem gerepyokan untuk menangkap tikus dan langsung dibunuh; (2) penyiangan dilakukan sebaik mungkin agar tidak banyak sarang tikus disekitar ubi jalar; (3) pemasangan umpan beracun, seperti Ramortal atau Klerat.
B. Penyakit
a) Kudis atau Scab
     Penyebab: cendawan Elsinoe batatas. Gejala: adanya benjolan pada tangkai serta urat daun, dan daun-daun berkerut seperti kerupuk. Tingkat serangan yang berat menyebabkan daun tidak produktif dalam melakukan fotosintesis sehingga hasil ubi menurun bahkan tidak menghasilkan sama sekali. Pengendalian: (1) pergiliran/ rotasi tanaman untuk memutus siklus hidup penyakit; (2) penanaman ubi jalar bervarietas tahan penyakit kudis, seperti daya dan gedang; (3) kultur teknik budi daya secara intensif; (4) penggunaan bahan tanaman (bibit) yang sehat.
b) Layu fusarium
     Penyebab: jamur Fusarium oxysporum, F. batatas. Gejala: tanaman tampak lemas, urat daun menguning, layu, dan akhirnya mati. Cendawan fusarium dapat bertahan selama beberapa tahun dalam tanah. Penularan penyakit dapat terjadi melalui tanah, udara, air, dan terbawa oleh bibit. Pengendalian: (1) penggunaan bibit yang sehat (bebas penyakit); (2) pergiliran /rotasi tanaman yang serasi di suatu daerah dengan tanaman yang bukan famili; (3) penanaman jenis atau varietas ubi jalar yang tahan terhadap penyakit Fusarium.
c) Virus
     Beberapa jenis virus yang menyerang tanaman ubi jalar adalah Internal Cork, Chlorotic Leaf Spot, Yellow Dwarf. Gejala: pertumbuhan batang dan daun tidak normal, ukuran tanaman kecil dengan tata letak daun bergerombol di bagian puncak, dan warna daun klorosis atau hijau kekuning-kuningan. Pada tingkat serangan yang berat, tanaman ubi jalar tidak menghasilkan. Pengendalian: (1) penggunaan bibit yang sehat dan bebas virus; (2) pergiliran/rotasi tanaman selama beberapa tahun, terutama di daerah basis (endemis) virus; (3) pembongkaran/eradikasi tanaman untuk dimusnahkan.
d) Penyakit Lain-lain
     Penyakit-penyakit yang lain adalah, misalnya, bercak daun cercospora oleh jamur Cercospora batatas Zimmermann, busuk basah akar dan ubi oleh jamur Rhizopus nigricans Ehrenberg, dan klorosis daun oleh jamur Albugo ipomeae pandurata Schweinitz. Pengendalian: dilakukan secara terpadu, meliputi perbaikan kultur teknik budi daya, penggunaan bibit yang sehat, sortasi dan seleksi ubi di gudang, dan penggunaan pestisida selektif.
PANEN
1. Ciri dan Umur Panen
     Tanaman ubi jalar dapat dipanen bila ubi-ubinya sudah tua (matang fisiologis). Ciri fisik ubi jalar matang, antara lain: bila kandungan tepungnya sudah maksimum, ditandai dengan kadar serat yang rendah dan bila direbus (dikukus) rasanya enak serta tidak berair. Penentuan waktu panen ubi jalar didasarkan atas umur tanaman. Jenis atau varietas ubi jalar berumur pendek (genjah) dipanen pada umur 3-3,5 bulan, sedangkan varietas berumur panjang (dalam) sewaktu berumur 4,5-5 bulan. Panen ubi jalar yang ideal dimulai pada umur 3 bulan, dengan penundaan paling lambat sampai umur 4 bulan. Panen pada umur lebih dari 4 bulan, selain resiko serangan hama boleng cukup tinggi, juga tidak akan memberikan kenaikan hasil ubi.
2. Cara Panen
Tata cara panen ubi jalar melalui tahapan sebagai berikut:
  • Tentukan pertanaman ubi jalar yang telah siap dipanen.
  • Potong (pangkas) batang ubi jalar dengan menggunakan parang atau sabit, kemudian batang-batangnya disingkirkan ke luar petakan sambil dikumpulkan.
  • Galilah guludan dengan cangkul hingga terkuak ubi-ubinya.
  • Ambil dan kumpulkan ubi jalar di suatu tempat pengumpulan hasil.
  • Bersihkan ubi dari tanah atau kotoran dan akar yang masih menempel.
  • Lakukan seleksi dan sortasi ubi berdasarkan ukuran besar dan kecil ubi secara terpisah dan warna kulit ubi yang seragam. Pisahkan ubi utuh dari ubi terluka ataupun terserang oleh hama atau penyakit.
  • Masukkan ke dalam wadah atau karung goni, lalu angkut ke tempat penampungan (pengumpulan) hasil.

PASCAPANEN
1. Pengumpulan
    Hasil panen dikumpulkan di lokasi yang cukup strategis, aman dan mudah dijangkau oleh angkutan. Pemilihan atau penyortiran ubi jalar dapat dilakukan pada saat pencabutan berlangsung atau setelah semua pohon dicabut dan ditampung dalam suatu tempat. Penyortiran dilakukan untuk memilih umbi berdasarkan warna kulit umbi kecacatan, ukuran umbi, bentuk serta bercak hitam/garis- garis pada daging umbi.
2. Penyimpanan
   Penyimpanan ubi jalar cilembu selain ditujukan untuk mempertahankan daya simpan, juga bertujuan agar umbi lebih manis. Penyimpanan ubi yang paling baik dilakukan dalam pasir atau abu dengan cara sebagai berikut:
  • Angin-anginkan ubi yang baru dipanen di tempat yang berlantai kering selama 2-3 hari.
  • Siapkan tempat penyimpanan berupa ruangan khusus atau gudang yang kering, sejuk, dan peredaran udaranya baik.
  • Tumpukkan ubi di lantai gudang, kemudian timbun dengan pasir kering atau abu setebal 20-30 cm hingga semua permukaan ubi tertutup. Cara penyimpanan ini dapat mempertahankan daya simpan ubi sampai 5 bulan. Ubi jalar yang mengalami proses penyimpanan dengan baik biasanya akan menghasilkan rasa ubi yang manis dan enak bila dibandingkan dengan ubi yang baru dipanen. Hal yang penting dilakukan dalam penyimpanan ubi jalar adalah melakukan pemilihan ubi yang baik, tidak ada yang rusak atau terluka, dan tempat (ruang) penyimpanan bersuhu rendah antara 27-300C (suhu kamar) dengan kelembapan udara antara 85-90%.
  • Penyimpanan juga dapat dilakukan pada rak-rak atau menghindari penyimpanan umbi di lantai secara langsung atau dalam keranjang bambu dengan alas berupa abu atau pasir kering dan Penyimpanan ubi pada para-para ( rak bambu ) yang diletakan dekat dapur
Sumber : http://tatangkostaman.blogspot.com/2010/09/budidaya-ubi-jalar-cilembu-st-1.html